Bebenah Diri

Margin ada “dalil”nya, ada
implikasinya:

Dagang dengan hi-tech products,
bati-nya up to 3000 %, even better.

med-tech products, keuntungannya
hingga 1000 %,

low-tech products, dalam kisaran
80-400 %,

percentage margin dibawah
itu disebut cukup untuk menyambung hidup.

Semakin keatas, semakin bicara quality,
semakin padat modal, keunggulannya kompetitif.

Semakin kebawah, semakin bicara quantity, semakin padat karya,
keunggulannya komparatif.

Bisnis yang berhasil, bisnis yang
kompetitif. Kemudian tersebar, mereknya
teruji dan terpuji.

Bisnis yang berhasil produknya
terus up date, lantaran pikiran terus diasah, semangat pantang surut.

Bisnis yang berhasil menempati
posisi dalam pasar, punya market share, mimpinya monopoli, mengambil seluruh
kue.

Bisnis unggul, bermarjin
lebar. Memadai dalam memenuhi keperluan
hidup, bahkan bisa lux seumur hidup. Yang
makmur sampe VII turunan masuk kategori dynasty atau wangsa. Yang pas-pasan paling turunan ke delapan.

Disini ada yang sampe turunan ke
sepuluh, tetap makmur. Namanya Sri
Sultan Hamengku Buwono X.

Gelarnya mentereng: Sampeyan
Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwono Senapati ing Alogo
Ngabdurrokhman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Dasa.
Bisnisnya apa, unggulnya dimana, ga
jelas.

Baik, sampai disini sebagian dari
“dalil-dalil” nya. Dalam implikasinya,
bisnis mulai memasuki ranah berikut:

Kalo bisnis-bisnis udah multi
nasional mimpinya bergeser: Hegemoni.
Sensasinya lebih dari ecstacy, lebih dari uang melulu. Itulah kekuasaan. Gairah paling primitive. Basic instinc.

Bangsa Israel dikatakan unggul sejak
dulu. Tak pernah bengong. Mentally,
melatih otak dengan berhitung, dari pecahan sederhana, hingga puluhan digit
dibelakang koma, menggunakan seluruh operasi matematika yang ada.
Konon otaknya tak pernah unoccupied.

Fir’aun tak kurang canggih,
rupawan, selama 450 tahun umurnya, sangat sehat. Plus, plus. Bangsa Israel dihadapannya cuma babu, tak
berkutik, mati kutu.
Mereka diuber-uber,
kalo ketangkep dilecehkan, akhirnya jadi budak adalah pilihan terbaik, yang atas
diri sendiripun tak punya kuasa. Powerless.

Fir’aun tampuk kekuasaan, lantas ia
berkata: “Akulah tuhan”. Iblis pun kaget
bukan kepalang.
Denger-denger, sebagian
sekte di Mesir keukeuh peuteukeuh yen Fir’aun teh sebagai Bapak Pembangunan
Nasional.

Kekuasaan
membuat suara menjadi “sounding”.
Bisikan ditafsirkan ultimatum. Tak perlu tanda pentung, cukup
titik. Respon-nya stiff: “Monggo
Bendoro, hamba laksanakan”, atau, “yes, Sir.
Loud and clear”.

Berlainan
dengan respon dalam kemesraan, bunyinya: “Everything I do, I do it for you”,
atau, “Apa sih yang engga buat kamu”.

Kekuasaan ya
penaklukan. Laporan surplus terus, utang
berkurang terus, biarin. Lunas
jangan. Berkuasa terus berarti membuat
pihak lain bergantung terus.
Kekuasaan kalo
masih tanggung nuansanya vested interest, kalo sudah dirasa mantap ya dikte sekalian.

Disini tempat
pertarungan. Bukan cuma pasar bagi barang,
jasa, faham dan gagasan impor. Kekuasaan dunia bermain di semua bidang,
i-pol-ek-sos- bud-han-kam- nas-ag.

Benturan ya tentu
kerap terjadi, kalo mampu meredam disebutnya situasi kondusif, aman dan
terkendali. Namun sekalinya keras terus
kewalahan.

Sebabnya simple
saja, keterampilan dalam mem-fluktuasikan nilai uang, akibatnya disebut krisis
multi dimensional.

Hegemoni
berdaya hipnotis, pelan dan menghanyutkan.
Teriakan anak-anak sekolah yang kesurupan bukan akibatnya. Hegemoni ya direction. Agar menoleh padanya, melangkah seiring
dengannya, masuk comberan bersamanya.

Siapa ga mau dagang
disini. Tenang. Rakyatnya bukan tukang ngemplang.
kalo orang sini mati, yang hidup berkata:
“Bila ada hutang-piutang yang belum kelar silakan berunding dengan pihak keluarga
yang ditinggalkan agar hisab bagi almarhum jadi ringan”.

Dagang disana ga tenang, apa-apa strickly
by law, law firm banyak. Kalo kasus, bayaran
advokasi sekian dollar per jam. Why? karena
rakyatnya nganggap kalo mati ya, au ah elap.

Tanya aja, jawabnya most of them have
no idea about hereafter, akherat. Mati
ya persis seperti sebelum lahir, penuh kedamaian. Asal ngerti cara exit, ngemplang ya o.k.

Tujuan permainan catur adalah
melumpuhkan, raja tidak boleh dimakan. Bisnis mirip catur, mirip politik juga. Dalam bisnis atau politik, salah-salah aturan
tinggal aturan.

Padahal untuk batu saja ada
consensus-nya seperti tertulis di Borobudur, bila perang terjadi, situs itu tak
boleh hancur, demi arkeologi, demi anthropologi.

Namun dalam politik atau bisnis,
manusia seringnya jadi objek saja, subjeknya ya kekuasaan itu.

Pelajaran pertama dalam bisnis,
kenali pesaing. Serangan diarahkan langsung ke raja lawan,
raja rokade bidikan tetap ke raja.
Dalam bisnis dan politik ada usaha agar saingan jangan jadi raja.

Raja boleh di makan, contoh:
Caucescue ex. Presiden Romania ditembak.
Saddam Hussein, pemimpin partai Baath merangkap presiden, digantung. Ini bedanya daripada sekadar playing chess.

Nah itulah beberapa implikasi
dari dalil-dalil, versi saya.

Pembaca punya cara berpikir
deduktif, induktif, asosiatif dan sebagainya, silakan atur-atur saja.

Apakah kita akan terus jadi pouncing
bag? Walau kokoh dalam double cover, kalo terus terusan di jap, hook dan upper
cut, ya k.o. juga. Mari simak dan
tangkap moment yang pernah ada:

Laksamana Cheng Ho merapat di
Sriwijaya, si-li-fa-tsi. Kemudian sandar
di di Asem Arang. Sampai sekarang di
jalan Simongan Semarang, ada kuil
namanya Sam po kong (Laksamana). Cheng
Ho yang anak Ma Hadzi (pak haji) menyaksikan leluhur kita, manusia bahari
penakluk.

Dulu ketika mereka seumuran kita,
Mahapatih Gajahmada, bersumpah untuk membungkus Nusantara dalam satu
kemasan.

Bung Karno tak sungkan-sungkan meng-klaim
seluruh jajahan belanda jadi satu replublik bernama Indonesia, bahkan Serawak sekaligus Brunei, ex genggaman
Inggris pun mau di aneksasi. Yel-yel
nya: “Ganyang Malaysia”.

Mereka pun telah meletakan dasar
agar seluruh negara Asia dan Afrika sebagai basis baru untuk meng-counter
dominasi barat. Orde Baru bilang: kita
non-blok.

Muhammadyah canangkan tekad bisa
bikin rumah sakit, sekolahan, panti-panti sebaik yang dimiliki Belanda.

Sarekat Islam mantap tawarkan gagasan,
sanggup buat system perdagangan lebih baik daripada system gubermen Hindia
Belanda, setelah V.O.C. dibubarkan Ratu.

Pak Harto - Mochtar Kusumaatmaja
menggalang kekuatan Asean, Subroto menjadikan Opec ada greget. Phinisi Nusantara berenang ke Vancouver. Orang Bugis merantau ke Madagasykar & South Africa.

Kalo orang Jawa jadi petani tebu
di Suriname, itu sih emang lain lagi.
Ini lagi: Tulisan Latin di banknote, maksudnya
ingin ada Tata Dunia Baru.

Saya mengatakan, tunda dulu mimpi
mondial itu, tandingan mu masih bebenah, tunggu. Kami masih recovery, setelah habis-habisan jiwa-raga
dan tempat kami berpijak terkuras.

Kami
tau tuan tidak melihat tanah dalam ukuran tumbak, bata, hektar. Tuan melihat tanah kami menurut Sistim
Periodik Unsur-Unsur, Dmitri Mendeleyev.

Tuan lihat banyak kandungan
materi bernilai; di permukaan, ditengah
dan didalam perut bumi kami.

Dari logam paling bagus untuk
ujung pulpen, hingga batu untuk semikonduktor paling cerdas. Disana, Tuan gali batubara pake terowongan
berkilo-kilo, di bumi kami, tinggal di pacul.

Jika tidak mau nunggu, maka
kehendak tuan hanya arti halus saja dari imperialism.

Plis deh, pake google earth real-time
tuan, pake lah helicopter tuan, Lihat:

Hitamnya
citarum, borok-borok ex insitu K.P.- K.P. di Kalimantan, yang sekarang telah
menjadi Mantankali, perumahan mewah Bandung utara, adalah bukti mal
praktek. Belum lagi, TKW bertato setrika
dengan bibir bengkak nan merah delima. Itu
contoh saja.

Fenomena
tersebut menjadikan para perambah hutan hanya tampak lugu semata.

Bandingkan
dengan “tsunami” akibat tingkah polah para penyembah berhala, nu doraka ka
kolot, dan pemerkosa cucu-cicit
sendiri. Berpendidikan tidak serta merta
mendatangkan hakikat ilmu, yaitu takut pada Alloh yang maha baik.

Apalah arti
menjadi jago bikin pisau terbagus, kalo digunakan untuk membunuh orang
tua. Masih bertahan pada argument demi
devisa?

Kami masih ragu narik duit gede
dari anti – dumping. Kami belum becus mengelola pelabuhan tongkang.
Takut di embargo
kayak AURI. Onderdil Falcon seret bukan
lantaran kami beli Sukhoi. Diadukannya kami
ke uncle Sam, karena takut kami exocet
Singa comel.

Padahal 200 juta kami pipis
berjamaah disana tenggelamlah dia, cukup membuatnya raib dari peta bumi.
Elite kami mengatakan, S’pore and Malaysia
are close friends but not true friends. Iya juga sih, saya punya pengalaman, tapi debate-able.

Lagi kepepet, kami jual Indosat
ke S’pore. Selang sesaat, berniat buy-back
dengan harga lebih mahal.
S’pore berkata: “Maaf saya lagi ga perlu uang”. Lalu terdengar kabar Indosat dibeli Qatar
dengan harga berlipat-lipat.

Tuan lihat disini promising land. Tuan upayakan agar kami sebisa-bisa, hanya
jual mentah, gelondongan, metric ton , atau tukang jahit saja.
Tuan upayakan agar kami lemah dalam
perdagangan produk inter-mediate, apalagi jual end-product.
Macam-macam lah ISO nya, CSR nya. Tuan punya system telah bekerja, baru saja kami merapat, ujug-ujug dituduh dumping.
Tuan beli secara di kilo, nanti menyuruh kami
beli secara nilai, tuan bikin cap Intelegent products.

Tunggu tuan. kawan-kawan kami disini masih kisruh dalam perebutan tampuk dan makar-makar.
Barangkali
para petualang itu, dalam sel-sel di tubuhnya menyimpan informasi genetic
Ken Arok.

Sekurang-kurangnya kami ingin
imbang dulu. Kalo bahasa udah setara,
tuan bisa berunding dengan kami, mengenai Tata Dunia Baru, itu.
Tuan akan belajar pada kami, bahwa kami bisa
menang tanpo ngasorake, ngluruk tanpo bolo, bahkan enjoy dalam sugih tanpo
bondo.

Selamat I’dul Adha.

Tidak ada komentar: