Prolog:
Chinese, sejak jaman kaisar Ming telah mengadakan kontak dagang dengan kekaisaran di Selatan. Sekarang Sumatra, Kalbar, dan Jawa.
Barang-barang yang ditawarkan diantaranya: Sutra, keramik dan obat-obatan. Benda-benda itu awalnya dibarter dengan emas, tanah, nyai-nyai, ilmu kanuragan, atau macam-macam privilege. Kemudian dibikin sendiri, customised.
Orang Arab di Indonesia udah ratusan taun. Diantara turunannya, ada yang bikin sarung. Sampai sekarang di Yaman sana, sarung masih se-populer disini.
Leluhur kita bertani, bikin jamu, bikin rumah, gali sumur, ngerti cara persalinan yang baik. Nah, leluhur kita pun bikin kain dengan berbagai jenis, corak dan tentunya beserta segenap teknik yang melingkupinya.
Tekstil di Indonesia, tua sudah. Ada batik berumur lebih 100 taun, kondisinya masih bagus. Termasuk yang disimpan di museum Polandia - batik Pekalongan bikinan 1887.
Para leluhur taunya bikin. Tanpa pendidikan, hanya dari mulut ke mulut. Just did it.
Bermula dari usaha rumahan, terus memasyarakat, dan waktu terus berjalan menembus jaman. Berangsur pemerintah jadi peduli, wacana melembaga, kemudian pendidikan dan balai penelitian tekstil-pun dibangun.
Institusi itu hadir karena diperlukan. Jelas bukan mengada-ada. Dalam kurun tertentu, kontribusinya dibawah payung Deprin terasa.
Hari ini orang telah berpendidikan. Setelah itu bekerja pada perusahaan yang telah dibikin orang lain. Ada yang nganggap batu loncatan, ada yang keterusan - long life carrier, bahkan whole life.
Hal yang disayangkan:
Sifat pionir para leluhur itu, terekam sebagai informasi genetic dalam pita DNA generasi selanjutnya, secara hawar-hawar.
Mari emphasizing kata “hawar-hawar” dan coba ganti menjadi “strongly”.
Bedanya dengan jaman Ming, sekarang barter-nya rada kurang padan. Misal: barang hi-tech ditukar beras ketan. Grey import , garam import bagaimana pula.
Dialog:
Ada niat, seribu jalan. Tidak ada niat, seribu “tapi”.
Orang Sunda bilang:
“ seueur ‘atuh da’ na”.
Loba “uh” jeung “ah” -na.
“Hese usik, euy”.
Kata A khiong: “Kondisi kieu mah hese ngomong lah”.
The Rome was not built in one night.
Misal:
kita ada niat, terus bikin dyestuff (powder or granular), contoh: Black, saja. Tosca, scarlett dan magenta, nanti dulu. Atau, bikin raw material untuk auxiliaries, surfactant. Atau, bikin Jet dyeing mc. Atau bikin spare parts, and so on.
Misal lagi:
Ada mall, ada high rise building. Ada juga gedung parkirnya, biar ga nyusahin orang. Sama saja, ada pabrik, ada IPAL.
Namanya instalasi, pasti mahal, bisa-bisa semahal pabriknya. Gedung parkirpun hampir seharga mall-nya.
By the way, adakah auxiliaries jitu buat menghilangkan bau, warna, sekaligus dalam gelontoran alkalis, dsb? yang mati bukan cuma lele, dan ikan sepat. Bagaimana dengan gagal panen? Bagaimana debgab unsur hara?
Pucuk daun jambu klutuk, terbukti manjur buat mencret tak terkendali. Urusan limbah tetep pake IPAL.
Kalo ahli tekstil tidak merasa tersinggung oleh pencemaran limbah, pantesnya jadi bintang film saja.
Ok, let say, kita beneran ada niat dan terus bikin IPAL.
Eh, ternyata dari dua misal diatas ada hasilnya, namun belum sempurna: Piloting Project.
Hemat saya, tunjukkan road map of technology-nya. Kemas dalam bentuk tawaran yang tidak bisa ditolak. Publish dengan berani, datangi pemerintah, push. Berangsur atensi diberikannya pula, bagus kalo dia speechless.
Lebih bagus lagi kalo dari aspek niat nya pun di bayar. Soal barangnya jadi bagus dan murah, itu nanti, tergantung efisiensi. Efisiensi kan baru keliatan bila sudah ada repeatability, reproducibility, continuity.
kejadian di Taiwan. Industry komponen-komponen memasyarakat, computer rakitan mewabah. Orang jadi susah untuk menuduh mereka telah menjiplak, wong ga ada mereknya. Akhirnya pemerintah tergugah, menggunakan segala kewenangannya, dan Acer-pun dikukuhkan.
Obrolan sehari-hari:
“Ah, asal source-nya jelas, mutu ga ada complain, dan harga maen. Mending jualan saja daripada susah-susah bikin”. You are right, my friend. Sah, valid.
Kayak orang di angkot bilang: “Ah disini aja”, maksudnya duduk deket pintu biar kalo dah nyampe, gampang turun. Ga mau geser. Jadi, kata “Ah” semacam shortcut.
Seolah, biar aja yang bikin Chinese, Indian, Taiwanese , Korean.
Seolah, pekerjaan dalam membuat sesuatu: “sudra” banget.
Padahal bunyi iklan Lifebuoy kan berani kotor itu baik.
Kalo ahli tekstil hanya tau uang, tentunya tak ada lagi ada kaidah yang perlu dipertahankan dan dibela.
Beberapa bulan lalu saya ketemu Pak Wibowo Murdoko, beliau getol mengembangkan sutra sejak dari proses hulu - ulat. Tanpa mempedulikan skala-nya, saya apresiasi.
Langkah politik perlu, maksudnya kan, agar ada pengaruh pada kebijakan nantinya. Biar diuntungkan.
My friends, hal itu bakal jelas bargaining position-nya, kalo tujuannya jelas. Tujuan jelas adalah benda pertama yang harus dipunyai. Seperti: “aku ingin jadi pilot”.
Bukan yang seperti ini: ”aku ingin meningkatkan taraf kesadaran berbangsa dan bertanah air”. You see what I mean, don’t you? Yes, must be definitive, tangible.
Penajaman project akan tergambar dalam proposalnya. Otherwise, lobby apa yang dapat dilakukan? Tanpa itu, tak ada perjuangan yang bisa dibanggakan bahkan memalukan.
Kalo jelas gagasannya, ga perlu ambil pusing siapa presidennya, apa agamanya.
O, ya, bila perlu, datangi Depag, dana abadinya kan besar. Buat siapa? Buat kita, penguasa berdaulat di republic ini. Kalo ga diambil, apa nunggu dikasih?
Kalo bukan komunitas tekstil yang men-inisiasi, lalu siapa? Itu pertanyaan retorik, tak perlu dijawab. Maksud saya adalah agar kita tidak jadi penonton atau pengikut trend setter.
Tabiat negara industry, dimanapun, mesti punya anggaran riset yang banyak sekali. Bisa-bisa sampe bingung bagaimana menghabiskannya. Tak kurang di Indonesia juga.
Namun apa daya gagasan tidak ada. Jadinya useless, meaningless, pointless. Ngalor-ngidul. Kalo cuma bicara krisis global anak SD juga tahu.
Akhirnya dana dipake untuk meningkatkan belanja rutin Negara, di “utangin” ke yang bikin parpol, peremajaan mobil dinas, renovasi perumahan anggota DPR, dan 22 milyar ludes hanya buat nembak trio bom Bali, padahal dari dulu mereka sudah ikhlas cuma minta cepet-cepet dipancung.
Salah pemerintah? Atau salah kita?
Pemerintah hanya regulator, entry point tetep kita.
Apalah arti dana riset yang dihabiskan dibandingkan dengan manfaatnya bagi banyak umat yang bergulat untuk menemukan cara mengurangi impor, atau mengurangi ekses negative dari limbah pada lingkungan.
Berapakah yang bisa disumbang oleh seorang ahli tekstil pada perbendaharaan nilai hidup umat manusia?
Epilog:
Setiap kita menanggung keadaan ini, kita senasib dan sepenanggungan.
Dalam berbagai levelnya, kita ada sense of crisis.
Itu perkara kita, jadi aral yang melintang dalam masa hidup kita dan akan meninggalkan bekas yang dalam pada masa-masa yang akan datang, kalo kita gagal mental.
Kita dipaksa menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang.
Why? Karena manusia bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalo tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka kemajuan sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan saja dari kamus umat manusia.
Kita juga dipaksa untuk bersabar, dan ini memang satu-satunya way-out towards keberhasilan. Kesabaran adalah suatu langkah besar. Dengan kesabaran pendekatan jadi arif, tidak gegabah.
Pendekatan seperti air sungai yang mengalir dari gunung ke laut. Mengadaptasi diri dengan keadaan alam, tidak menabrak bukit yang menghalang tapi mencari bagian-bagian yang paling mudah dilampauinya.
Sekarang, manusia terobsesi oleh sukses sudah hal biasa. Bukankah sukses itu menerima kenyataan adanya batu sandungan dalam hidup dan dapat melaluinya dengan selamat?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar