Hidup Sederhana

Dunia tempat berbeda
pendapat. Dikatakan, terungkapnya segala
rahasia sejati hanya di akherat tempatnya.
Ucapan dan tulisan apapun, dengan intensitasnya adalah rentan terhadap
berbagai tanggapan. Apalah arti surat
elektronik ini? Sama saja dengan tulisan di kertas. Dia tidak bertulang, tidak berdaging hanya
pikiran.

Sebelum kertas di temukan oleh
Tsai’Lun, sebelum mesin cetak ditemukan oleh Johann Gutenberg. Sebelum
tinta ditemukan.

Sebelum kenangan diukir sebagai relief
di gua-gua, di candi-candi atau interior
pyramid. Pikiran-pikiran manusia dan
peradaban dibangun dari “gulungan” kisah dan dongeng.

Namanya juga dongeng, sok teu akurat, maka biasanya
dimulai dengan “konon” atau “syahdan”, “suatu hari”, “Tersebutlah kisah”.

Nah, ngirim surat-elektronik sifatnya
broad-base. Nga- s.m.s. pegel and sempit,
rek
panggih bukan perkara mudah, re-union kamari, hujan. Geus we ngetik didieu. Tapi ieu dongeng, rada-rada sejarah dan
beruansa biography.

Mari ngadongeng tentang hidup
sederhana,

Kita yang kecil di taun 60-70an, satu
telor di-dadar, lantas di bagi 4 segmen
adalah lumrah saat sarapan. Makan ayam
goreng kalo Ayah gajian saja. Ma’nyus
rasanya.

Persiapan kalo mau nyaba ke
Jakarta - untuk nengok family - bisa
seminggu. Pake baju bagus, minimal ex.
lebaran, jadi kojo. Nasi dan lauk-pauk
dikemas dalam rantang yang dijinjing pada simpul serbet, “biar kalo lapar di
jalan ga usah jajan”, kata ibu yang mulia.

Perjalanan naik suburban di jalan
penuh tikungan bikin pemandangan kuning berkunang-kunang. Tapi ibu tindakannya pas aja, mulailah jeruk
Garut dikupas dan hatipun tentram.
Harumnya buah itu menghadirkan seni berkendaraan dan menerbangkan impian: “Wah, bisa sekalian ke
Monas, nih”, “Wah, kalo beruntung bisa ketemu langsung dengan Chicha and Adi”.

Nyebrang Citarum melintasi jembatan
lama peninggalan Daendels bercat kuning.
Harita sadar, wah jauh keneh, karek Rajamandala.

Rute bisa lewat Parung atau kalo
Purwakarta, bras-na di Cikampek, lalu Lemah Abang dst. Entah berapa jam diatas roda. Demikian
sampai di Kedoya tempat sodara bermukim, penyambutan bagai terhadap yang pulang
haji. Peluk haru, and so on. Padahal masih “jet-lag”.

Soal permainan, yang rame ketika
itu: Galah asin, ular tangga, dam-daman,
sorodot-gaplok, halma, ucing-sumput, ludo, perang-gobang, monopoli nasional - nu
pang mahalna kotak Brastagi tea. Untuk berenang,
paling ngojay di Balong Aki, nu balikna gegetret, lapar, bari jeung hurik. Paling top ya olah raga dirgantara lah, alias
maen langlayangan. Babaturan mah aya nu
nepi ka belekan, da jurigna.

Soal cinema; The Six Million
Dollar Man atau si desik, The Wild Wild West, boga lakonna si Jim West sok
ngomong “kenap!” maksudna “hands up!”. Jungle Jim, Voyage to The Botttom of The Sea,
The Dream of Jeannie, Mannix, nu sok pingsan mun di ketig (di pukul leher belakang
dengan gagang pestol). The Barons, Hawaii
Five O, dsb.

Kalo malem ga kesampaian nonton,
besok di sekolah jadi kambing conge diantara serunya obrolan kawan-kawan nu
pada embung ngelehan - disebutnya katinggaleun jaman. Malem Minggu, Cerita Akhir Pekan– sekarang
(?).

Besoknya Film Boneka si Unyil,
Ria Jenaka – bodor ber-misi pemerintah Orba, dari Gelanggang ke Gelanggang dan setelah
Little House on The Prairie, TVRI yang
di kampung dibaca turi itu, lalu menayangkan ribuan semut tabrakan. Teve-pun off.

Film Layar lebarnya: Tarzan Kota
(Benyamin), Dunia makin panas, yang poster sexy-nya dilukis pada kain ukuran sebesar 4 x seprei. Samtidar – budak soleh. Dan beberapa seri
Bing Slamet, bersama Eddy Sud, Ateng, Iskak.
Semua almarhum. Ada juga Ratmi
B-29, Ma’ Uwo, Edi Gomgloh. Merekapun telah
di Barzah.

Bintang film cewek 80an trend-nya,
berbulu ketek. Contoh Eva Arnaz, ada
satu dosen STTT fan’s Eva, namun Off the Record. Ga enak disebut namanya disini bisi dia
batuk.

Soal music: D’lloyd, Duo Kribo,
God Bless, Panber’s, Eddy Silitonga, Sherly Malinton, Kiki Maria, Geronimo, Aji
Bandi, Sandro Tobing, A. Rianto, Joan Tanamal, Grace Simon, Kris Biantoro,
Henny Pusponegoro, Teti Kadi, Rafika duri, A. Rafik.

Bapaknya Melly Goeslow-Melky. Dan tentu saja ada Oma si raja dan Elvi si
ratu. Masnait Vocal Group dan Ramona
Purba mah rada ka beh dieu nakeun, kabeuki si Anto. Beegees, Led Zepelin, Abba, dan paling jelas,
tentu saja The Rolling Stones. Remaja kalo
culun saat itu akan digelari “Teu Nyetun” atau “Teu Negong”.

Masa remaja umumnya pabaliut
lantaran mulai nekad hunting nu herang-herang.
Diajar mabal, ngan henteu ari nilep duit bayaran mah, karunya, ah, teu
tega. Rasio penolakan : penerimaan oleh
si mancrit terhadapku, kurang menggembirakan, 25 : 1. Pang-pangna mah kulantaran cunihin, jadi
gareuleuheun. Padahal ternyata disadari
kini, bahwa hal itu babari pisan, tak perlu paras Ben Affleck, asal ulah tual-toel
heula.

Bergulir ke pra-dewasa. Kuliah tea. 1985, bayaran
ST3 sataun 145.000. Bari jeung
ngangsur. Jatah ortu paling 60.000 an
sabulan. Salut buat yang ngumbara dengan
jumlah wesel setara. Yang susah gaul
sering susah makan. Lapar, minum, lapar,
minum, lapar pisan sare.

Kalo lagi boke, Kawan saya ada
yang ngulik yaitu nasi dipurulukan uyah
plus kurupuk dirames and digalokeun. Nu penting wareg. Soal gizi cukup ditanggung seminggu sekali itupun,
kalo aula A disewa kawinan.

Awalnya hay-hay tapi er-er, (hayang
tapi era) selanjutnya wani wae, dari
pada hok-cay (molohok bari ngacay).
Tercetuslah terminology baru, UPGM (Upaya Peningkatan Gizi Mahasiswa),
jol blus seolah undangan, am... Tanya we
Satpam.

Di gang Wiranta ada warung nasi,
saya sebut Kotak Ajaib. Murah, gembira,
tinggal nyatet, akhir bulan bayar. Masuk
Keroncong, keluar Jazz. Ikmawan apal. Ada juga inisial “mbak i”, lumayan kumplit, tapi
rada cerewet. Kata si Anto, eta-na gede
sebelah. Doraka maneh, To!

Menu favorit di situ sayur kapsul
alias kacang merah. Nasi bebas sampai
mentung, diguyur kuah, lancar di tenggorokan.
Asbab na halal, kemudian peredaran darahpun lancar, otak cenghar, dan Teknik
Tenaga Uap pun “C”, mantaps.

Terus dan terus, bubar, kawin,
gawe dsb. Cerita sekarang?

Wah, Banyak perubahan significant. Olah raga yang dulunya asal ngesang di hut KM,
naha jadi Off-Road berhadiah Lexus. Golf
bukan lagi mahal, men, katanya. Doyan belanja
barang konsumtif daripada sekedar keperluan, atau yang bersifat produktif. Bagai terinspirasi kehidupan Monaco. Yang penting belanja, gesek. Tungtungna, hasil digawe ngan ukur mayar
tagihan.

Rumah minimalis, katanya, tapi
anggaran keluar maksimal. Padahal kalo dirawat,
asal ulah bocor-lah, BTN T-36 juga bisa bertahan lebih dari seratus taun,
kecuali dilamot banjir bandang.

Nangkring di Leghorn atau Rabit,
dengan kopi dan bala-bala, bagja pisan.
Sekarang, hang-out, café, clubbing. Sekali duduk min. cepe ceng out-flow.

Mobil kalo ga keluaran baru, rasanya
“Tidak Perform”, weiss. Padahal DX juga
dengan perawatan Mpu Getol, niscaya masih sanggup ngagandong seseorang dari
titik A ke titik B, nu penting teu mogok.

Gara-gara sekedar jabatan, orang bisa
cenderung “Feeling Important” and “bossy”.
Gejala paling umum adalah ga mau kalah ngomong. Fenomena ini mewarisi sifat feodal - Kata anak Gideon: “Atah pergaulan”. Merasa kuat hanya dan hanya karena ada kekuasaan
yang melekat, itu saja. Hal lain
menyangkut personal seperti expertise, dsb.
Bisa dibilang, jajar pasar atau average saja.

Macem Priyayi jaman dulu, “Playing
God”, bahu-membahu meng-eksploitasi bangsa sendiri bersama colonial Eropa
totok, Eropa peranakan, dan Eropa coklat yang kata Bung Karno “Cecunguk-cecunguk”. Keberadaannya sengaja dipertahankan, guna
memastikan lancarnya aliran upeti dsb.

Dua arus dalam Hirarki
kolonialisme- feodalisme adalah: Dari
atas ke bawah secara halus atau blak-blakan isinya ancaman, larangan, dan
tindasan. Arus dari bawah ke atas penuh
dengan jilatan. Hasilnya
daya hisap atas puting ibu pertiwi. Apa
bedanya dengan pejabat hari ini?

Saya mengatakan, kekuatan
personal sesungguhnya ada pada empati dan kemampuan menjadi pendengar yang
baik. Jabatan pimpinan hakekatnya adalah
kepala pelayan dari tim. Jadi pejabat
bukan jadi penghisap.

Efisiensi, bagi orang Jerman
adalah falsafah hidup, itu udah dari dulu sejak namanya masih Prussia. Orang Tiong Hoa punya ungkapan “makan bubur”,
itu bisa falsafi, bisa sebenarnya.

Karuhun kita dulu sebagai
inlander, kuat prihatin. 350 taun
dijajah, tetap berkreasi. Ada batik, ada
berkesenian. Sembari diselingi cultuurstelsel
(tanam iya, kerja iya, upah tidak), juga ada kejadian eksodus perawan-perawan untuk
sekolah di Tokyo padahal jadi budak nafsu Dai Nippon.

Leluhur kita tetap giat, malah kemudian
menggagas Konfrensi Asia Afrika. Organisasi Eropa pun belum mampu menggelar
event sebesar itu, saat itu.

Kawan seangkatan, KT ’85 telah
kerja di S’Pore bertahun-tahun jadi QA or whatever its name, in fact, up to now, I myself not quite sure about what
his job title is. Secara gemilang tetap zuhud,
seperti di Suka Mulus dulu.

Ada lagi sekelas saya di SMAN 1
Bandung yang kuliah di Sastra Inggris Unpad, sekarang jadi atase kebudayaan di
KBRI di Roma, tetap cantik, tetap cerdas, tetap bersahaja, namun sayang masing-masing
dari kami telah berjodoh dengan yang lain. Cinta tak harus memiliki tea.

Pola hidup sederhana bukan
pilihan, melainkan ajaran. Mewah atau
bermegah-megah bukan tuntunan terlebih dengan korupsi. Korupsi kan gara-gara ngerasa selalu kurang
dan butuh pengakuan. Hayang kasebut “wah” padahal “weh”.

Meski barang-barang yang ada di
toko telah ada juga di rumah, apadaya “rasa kaya” tidak bersemayam di hati. Sehingga radiasi barang-barang itu tidak
menghilangkan haus malah menambah dahaga. Teori saya: Koruptor-koruptor memulai karir dengan melatih
diri tidak otentik dalam menulis kwitansi.

Di Prancis, pembesar negri di depan
hidung, warga bisa adem ayem saja. Tapi,
kalo penerima Nobel yang duduk di pojok coffee shop, warga akan menyambut
hangat dan antri menyalami.

Jadi penghargaan, pemuliaan,
penghormatan memang bukan datang lantaran seseorang The Have, The Jet-Set, atau
dari Jabatan yang dipikul seseorang.
Melainkan karena seseorang telah secara ikhlas memberi manfaat bagi
orang lain melalui karya atau amalnya.

Leonardo Da Vinci mengatakan
ingin hidup sederhana saja, tapi dengan uang yang banyak. Nabi s.a.w ditawari emas se-gunung Uhud, katanya,
mending sehari kenyang, sehari lapar, biar bisa sabar dan syukur.

Jika malam hari masih ada duit
dibawah bantal, Nabi s.a.w. gelisah &segera nyari yang lebih membutuhkan, dan menyerahkannya. Nabi tidak mewariskan harta. Harta jadi biang pertanyaan: “Dapatnya dari
mana, belanjanya buat apa?”

Harta: Udah dapetnya susah, nyusahin.

Tidak ada komentar: