Kekuatan Pribadi

Batuan bumi paling tua, kira-kira berumur 4,5 milyar taun. Dinosaurus 65 juta taun lampau, punah sudah.

Sejarawan at least, dapat menceritakan serba-serbi, pernak-pernik, panca kaki, silsilah beberapa manusia pemancang tonggak kehidupan, hingga 2000 taun silam.

Ronggo Warsito 500 taun kedepan, Jayabaya 1000 taun kedepan. Futurist coba gambarkan kehidupan sampe 2000 taun kedepan. Mama Laurent biasanya di awal taun baru.

Nabi s.a.w. saban hari menjelaskan se gamblang-gamblangnya, elaborate, serinci-rincinya kehidupan esok yang selama-lamanya - dunia hanya satu titik saja dalam lintasan garis tak terhingga.

Angka berapapun dibagi dengan nilai tak terhingga hasilnya nol. Matematikawan mengatakan undefined. Chairil Anwar kalo jadi hidup 1000 taun lagi, bisa ga jelas artinya atau undefined dibandingkan dengan kelanggengan hari akhir, tanpa akhir.

Sejarah dilirik melalui kaca sepion, sekali-sekali saja. Masa depan ditatap lewat windshield. Mencapai tempat bahagia dan jaya, perlu daya dorong sekian horsepower dan pengendalian di masa kini: setir, gas, rem, perseneling, kopling, dsb. Usaha atas hati.

Keyakinan dan tindakan seorang guru bisa jadi sumber inspirasi, amal soleh dari seorang beriman jadi asbab turunnya hidayah.

Sejak masa Ch’in 250 tahun S.M. Han, 200 tahun S.M. Kemudian zaman-zaman: Sam Kok, Enam Dinasti, Sung, dan seterusnya.

Hingga kini, tidak ada manusia yang bisa terbebas dari pengaruh dan kekuasaan sesamanya.

Kecuali para Nabi, para sahabat, para solihin, para wali, & para da’i beneran, bukan pildacil.

Mereka dengan senang hati - ridho - meletakkan diri dalam kekuasaan Alloh saja, sumber dari segala sumber hukum.

Saya disini sedang bicara tentang orang-orang kebanyakan garis miring kite-kite neeh, juga bukan tentang para resi.

Yang tersisihkan dari pengaruh dan kekuasaan sesamanya karena gila, itu lain cerita.

Ok, lanjut.

Bahkan jika seseorang membuang diri pun, sendirian ditengah-tengah hutan atau samudra. Masih membawa padanya sisa-sisa kesan kekuasaan sesamanya.

Ingat kisah orang-orang Kahfi. 300-an tahun di”tidur’kan di goa, lari dari kesemena-menaan, dan penistaan. Lantas bangun dan duitnya tak lagi laku, penguasa berganti.

Setiap orang, siapa saja, yang berhasil dalam usahanya adalah seorang guru yang menambahi ilmu dan pengetahuan umat manusia. Pelajaran dapat dipetik, pun dari si lalim.

Keberadaan manusia pada jaman-jamannya jadi sumber pelajaran bagi umat selanjutnya. Termasuk peradaban besar yang pernah ada di Indonesia.

Keruntuhan Man-Zhe-Bo-Yi (Majapahit), sejalan dengan keruntuhan peradaban leluhur. Emporium yang dulunya melakukan perhubungan ramai dengan peradaban besar di Asia ini, jadi tak mampu lagi melindungi lautnya, ancur dari dalam.

Makin lama makin mengurung diri dalam ketidak tauan, terputus dari peradaban besar. Makin lama makin terbelakang dan makin miskin, akhirnya tak punya apa-apa selain ilusi.

Dengan diamnya itu, kembalilah mereka ke pangkuan kegelapan, seakan-akan akal telah disingkirkan, outward looking boro-boro.

Sebaliknya, orang-orang di Eropa sedang pada masa awal gencar-gencarnya explorasi sumber daya ke berbagai belahan bumi, termasuk Timur jauh.

Awalnya untuk mencari rempah-rempah, diantaranya cengkeh, pala, dan teh. Mungkin juga cari jahe untuk bikin bandrek. Nenggak alcohol bikin dengdek. Bosen, katanya.

Datanglah mereka ke sini, maksudnya dagang. Demikian menyadari payahnya inohong-inohong bangsa ini ketika itu, tawaran dagang jadi terlalu mewah. Menjajah lebih murah.

Sebab itu, banyak kosa kata berasal dari bahasa asing terutama Eropa dan Arab. Dari mesin and parts, hingga kata-kata paling sederhana seperti buku, bangku, dan lampu.

Di sebelah sana pun bangsa Indian dieliminir (baca: bantai) secara teratur. Bangsa nomad yang biasa berburu dan memancing ini, ditaklukan lalu dipetanikan.

Kemudian setelah dipaksa mengikuti menu Eropa yang tergantung pada pertanian, tanah-tanah mereka dirampas, dimasukkan kedalam reservat-reservat, diserahkan pada tbc dan tumpas.

Cherokee, don Sioux, Cheyenne, Comanche, Apache, Navajo, dsb. Tribes tegar namun tidak taktis. Di film-film koboy juga kalah terus, kesel gw mah nontonnya juga.

Nenek moyang siapapun pernah meroket meski lantas merosot. Pelajarannya adalah gimana caranya agar tidak hidup dalam bayang-bayang segala kemerosotan dari nenek moyang manapun.

Cerita paling disukai orang sampai detik ini, kira-kira Surapati. Tokoh yang mewakili semua impian tentang seorang pemimpin yang bersedia hidup dan bersedia mati karena pendiriannya. Pendirian, pernyataan filsafat.

Wayahna wae, orang seperti Surapati tidak kunjung muncul. Figurnya jadi tinggal lamunan. Kenyataannya, banyak hati pemimpin tidak dituntun kearah cinta pada umat, tapi pada kantor-kantor.

Agar namanya masuk dalam buku pelajaran IPS di Sekolah Dasar, tercatat diantara sederet tokoh-tokoh nasional.

Kekuasaan (baca: jabatan) yang diraih dengan segala lika-liku upaya, menjadi sekedar target pencapaian. Setelah duduk di singgasana, kemudian atur-atur, bagi-bagi, banca’an, rayahan.

Kursi jabatan yang sedianya merupakan fungsi guna mewujudkan visi yang telah digembar-gemborkan, segera melenakan. Mungkin mereknya Ligna yang kalo udah duduk lupa diri, tea.

“Geus lah, eta mah engke weh heula, mun geus tereh beres masa bakti. Kalem, oceh?” Demikian katanya. “Siaaaap lah, asal puguh weh itunganana.” Tanggap tim suksesnya.

Atau, istilah visi pun mungkin ga paham kecuali sekedar syarat yang harus dipresentasikan dalam debat public dan jumpa pers.

Dalam wadah yang pengelolanya kekanak-kanakan, pongah, dan manja, hasil social yang paling sah hanya penindasan. Kalo ngisi dialog di TV show, suaranya seperti katak puber dalam tempurung.

Bangsa-bangsa di dunia pada masa hidup kita ini, berlomba-lomba untuk memberi sumbangan pada kemanusiaan. Di bidang ilmu, pengetahuan, filsafat, teknik, kedokteran, art. Juga bangsa-bangsa Negro. Sedikit saja sumbangan dari bangsa ini.

Lantaran kekuasaan dianggap Awards dalam unjuk superioritas. Saat duduk di forum internasional, barulah mereka sadar. Duduk kaku bagai hansip ikut dalam rapat CEO.

Kilahnya:”Falsafah barat kan memandang dan mengambil manfaat dari alam dengan penaklukan, kita orang timur melalui keselarasan.” Matching jas and kopeah, maksudnya. Beungeut!!

Sadar bahwa tak bisa bikin sesuatu yang bisa dibanggakan kecuali keahlian atau pengalaman dalam intrik dan saling berlawanan. Berlawanan satu sama lain terhadap diri sendiri sebagai bangsa.

Zakat, infak, sodaqoh, wakaf, fidyah, hadiah dan lain-lain. Hakikatnya adalah mendidik sifat dermawan. Itung-itungan persen, dulunya cuma buat orang yang lemah iman.

Untuk berdarma dan mengabdi pada bangsa. Beratus milyar bahkan bertrilyun-trilyun rupiah muter-muter dulu di komedi partai - Jadi kaos, bendera, pawai, dan panggung dangdut. Istilahnya, untuk membangun dan sosialisasi saluran demoskratos.

Tu duit langsung dipake emang napa? Buat bayarin pasien miskin gizi buruk. Atau, nraktir urban di TPA yang survive dari mengais makanan sisa.

Atau, bantuin dulu ngeganjel sementara kebutuhan dasar yang jobless 10 juta orang. Sepuluh juta kepala keluarga, men, berapa orang buntutnya?

Atau, nalangin sejuta keruwetan masyarakat yang terlilit hutang. Itu gede lo pahalanya.

God, merhatiin yang begini-begini ini. Sikap diam bukan emas, diam pun sambil gemas. Mau demo, macam mana pula? Orang Batak bilang: “Bah.”

Seorang kawan mengatakan bahwa demo perilaku bego’. Saya bilang, ember. Yang kasian mahasiswa-mahasiswa itu, mahluk rentan, rapuh, polos tomo dan kokolot begog.

Jiga nu ho-oh sambil ga sadar ditumpakan jurig jarian. Provokator telah menghantarkan mereka pada predator. Berani untuk berani sama negatifnya dengan sewenang-wenang untuk sewenang-wenang.

Kalo mau demo ke Alloh saja, tahajud. Kalo tak yakin, tujukan pandangan batin pada pedalaman hati, periksa.

Uji, aya keneh iman, teu? Aya tapi lemah, ya usahakeun meh kuat. Penting tah, pisan.

Kita memang tidak seperti bangsa-bangsa eropa yang serba jelas. Seringkali kita gelap, ruwet dalam alam pikiran, perasaan dan klenik sendiri.

Sembrono tanpa jelas bakal hasilnya akan menjadikan nasib terlempar seperti gombal berlumuran najis. Ditakolan ku Brimob atau Satpol PP, contohnya.

Dulu, setiap serba Barat atau Arab yang dilontarkan pada mereka, akan menambahi kekacauan dan konflik baru dalam diri mereka. Apa lagi ini? Batinnya.

Orang diciptakan dengan kejelian berbeda, kecerdasan pun bertingkat-tingkat. Keterbatasan sumber daya mengakibatkan orang bekerjasama.

Tabiatnya, manusia dipersatukan oleh kesamaan kepentingan. Bekerjasama menunjukkan sifat socialnya. Dari perkenalan, pergaulan, lalu masuk masa “pacaran”. Banyak kerjasama dibangun diatas persahabatan.

Persahabatan merupakan sari-nya interaksi. Anjurannya, seribu sahabat masih kurang, satu orang musuh sudah terlalu banyak.

Orang “besar”, orang mampu bekerjasama, bukan one man show. Ga ada super hero – super heroan. Orang menjadi “besar” karena mem-“besar” kan orang lain.

Kekuatan pribadi diejawantahkan pada kemampuan dalam menjalin hubungan demi hubungan. Dengan hati, diatas dasar yang namanya keprihatinan.

Saya percaya bahwa kemenangan revolusi di sini, atau dimanapun, lebih ditentukan oleh perjuangan diplomatic. Kekuatan pribadi, kemudian kekuatan fisik.

Kekuatan mendasar pada suatu kerjasama bukan hanya fisikal, tapi yang penting mental. Mentalitas adalah orientasi nilai budaya.

Hari ini orang pada punya planning. Banyak sasaran dimasukkan dan menjadi bagian dari planning. Diantara agendanya adalah bagaimana mengisi sisa hidup sambil menunggu mati. Menyadari bahwa hidup tinggal puntungnya.

Juga menyadari bahwa jasad kita akan dipersatukan dengan bumi. Bumi manapun, karena ada unsur manusia yang merupakan bagian darinya. Bahwa makam adalah tempat dimana setiap orang akan dan sedang pergi.

Dengan planning orang menjadi sibuk, siapa tidak? Pengangguran pun sibuk mencari kerja. Dalam planning ada agenda, didalamnya terkandung unsur kerjasama. Dalam kerjasama ada nilai usaha memperbaiki diri.

Sudah banyak kisah sukses tentang kerjasama, yang paling fenomenal dan monumental adalah Nabi s.a.w. dengan para sahabatnya r.anhum.

Para sahabat Nabi adalah orang-orang pilihan Alloh ta’ala untuk menemani perjuangan kekasih-Nya, Rosululloh s.a.w. Beliau s.a.w tidak menggunakan kata “murid”, melainkan kata “sahabat”.

Asas beragama adalah persahabatan. Persahabatan akan membangun bangsa, jauh lebih luas lagi adalah akan membangun umat, lintas bangsa-bangsa. Bermodalkan rasa persahabatan perserikatan apapun yang lahir akan bertahan dan berumur panjang. Terhindar dari keruntuhan.

Mengingat bahwa perserikatan apapun yang dibangun, bukan wujud begitu saja. Bukan muncul dari celah-celah bebatuan atas kehendak dewa-dewa tak dikenal. Sayang kalo ambruk, seakan-akan tak ada orang yang merintis dan memulainya.

Coba simak kata-kata Baden Powell ini dan temukan relevansinya: “Saya tidak tabah diawal, saya tidak tabah ditengah, saya tidak tabah diakhir. Saya tabah dari awal sampai akhir”.

Apalah arti umur kita yang hanya 60-70 tahun ini, dibandingkan umur pohon beringin atau penyu. Sebentar lagi kita akan jadi bekas manusia, dan dalam masa yang singkat ini, kita menolak berkontribusi pada kerusakan material dan immaterial. Di seluruh permukaan bumi.

Tidak ada komentar: