Pedagang yang Jujur

Populasi tinggi, kalau mau jualan, calon
pembeli banyak - pending dulu bahasan mengenai daya beli, ok? Selain itu, dengan populasi tinggi cari pegawe mudah. Terutama saat ini, rekrut aja, asal jangan cap thank you.
Alamnya kaya, beraneka dan moderate. Mendapatkan rupa-rupa bahan baku relatif
mudah, berkarya sepanjang tahun bisa
tetap enjoy.

Perguruan tinggi banyak. Tuntutan terhadapnya dulu;
supaya “link and match”, sekarang; supaya “berbasis kompetensi”, besok apalagi? Sabodo teuing, yang penting, mahasiswa feel on the right track, lantas punya tujuan.

Ahli-ahli di berbagai bidang pun sudah mulai banyak, dari berpendidikan SD
hingga doktor.

Hasil-hasil penelitian sudah banyak, mau dagang, tinggal
pilih yang cocok. Anyway, tuntutan bagi peneliti jaman ayeuna adalah menghilangkan
gaya penelitian jadul - demi kepuasan batin atau untuk cum doang.
Ciri penelitian jadul: Judul rada-rada ga’ib,
mahal, tidak best seller, tidak heading ke arah sejahtera, teu nyambung. Menuhin rak-rak arsip, selanjutnya kalah efektif
oleh informasi paperless yang mudah di-akses.
Hasil penelitian yang bagus ibarat scenario untuk film “The Last Samurai”, hasil
riset yang dodol paling ”Jin dan Jun”.

Hal tersebut diatas beberapa contoh saja dari sumber
daya yang nampak di permukaan bumi Indonesia.
Sumber daya yang tidak nampak jauh lebih besar. Disebut sumber daya karena memang punya daya. Disebut jauh lebih besar, ya, powerfull.

Sumber yang powerfull itu hanya bisa diteropong dengan ilmu para Nabi-para Rosul hingga para Wali. Jaman sekarang, peneropongan, secara lumayan bisa dilakukan orang pake
“perabot” yang namanya sains, art, dan teknologi beneran. Bukan applied
technology. Perabot - perabot tadi tidak akan
berfungsi jika tukangnya tidak penasaran akan suatu rahasia. Contoh penasaran: Paparazzi.

Jelas, manusia
Indonesia berdiri ditengah-tengah sumber daya. Ditengah-tengah, pak! Nge-drive
sumber daya itu sesuai dengan gagasan yang ada dalam benak hingga bermanfaat, lumayan,
sudah layak disebut bersyukur.

Pragmatis dikit, falsafah ekonomi menganjurkan agar
bermain-mainlah dengan yang melimpah itu. Yang mudah, yang murah, hasilnya
jederrr.

Jederrrrr disini relative,
kalo materi, bisa jutaan, sampai milyaran, (Kalo setaun dapet 20 milyar mah terus pensiun
aja kalee….)Kalo non-materi, bisa jadi sumber kearifan, bajik, bijak.

Orang yang berpendidikan industri sudah pas,
klop. Apalagi Industrinya spesifik, itu
kan berarti ladang yang siap didalangi. Industriawan
bermental, berpikir, berkarya industri.
Industri
berkenaan dengan sesuatu yang sifatnya masal.
Matematika-nya terapan saja, paling top program linier. Bagian dari tekno-ekonomi,
agar industri efisien.

Di negara industri, orang, ketika ilmu dasar, jurus-jurus
dan trik-triknya telah ter-install di benak.
Lalu pasang radar, bidik order.
Disini, orang tinggal Tanya: “Mau bikin apa?” Disini, orang tinggal jawab: “Bikin anu”. Si "anu" itu sebaiknya yang ngait ke sources dan didukung dengan penyediaan teknologi yang relevan untuk industri nya. Cara industri kan merangkai sources tersebut kayak di circuit board. Itu analogi, bukan maksud menggampangkan.
Rancang
usaha nga-warung yang knowledge base, research base, biar bisa sustain,
pelan-pelan, singkirkan "de-ampat look", cari pegawe.
Sebisa-bisa
hindari ngelamar plus pake psikotest segala. Dari jam 8 - 16, test-nya itu-itu aja.Gunanya ayah menyekolahkan. Supaya anak piawai dalam goal-setting dan
mengeksekusi niat-niat baiknya.

Haruskah orang ketar-ketir, kebat-kebit, gundah-gulana,
niti semplek, nincak semplak, teu puguh cabak, tuluy aral? Tidak harus.

Sedikit sih boleh, biar ga seperti tikus mati di
beras. Supaya alert, bisi kaburu di pacok oray.

Esensi pendidikan adalah merubah perilaku dan
mandiri. Perilaku, arti gampangnya: Ngerti cara berteman. Minimal tidak sampai “makan tulang kawan” / cia
hopeng / kanibal. Maksimal membuat kawan bahagia dan masuk sorga.

Bisnis bagian kecil saja dari muamalah, muamalah
bagian dari agama. Hakikat ber-muamalah adalah
mendapat sifat jujur. Disitu challenge-nya. Sorry friends, ni buat yang muslim, kan Nabi
s.a.w. di surga nanti bakal bersama pedagang yang jujur.

Tidak ada komentar: