Drama

Day 1

Lahirlah bayi-bayi ‘Mblegenthong’ (Boso Jowo; maksudnya imut , menggemaskan). Satu disini, yang lain disana. Nantinya akan menempuh pengembaraan dengan menapaki jalannya sendiri-sendiri.

Dalam context, dalam process, dalam mind-set, dalam paradigm. What a wonderful day. The day they came into their life.

Day 2

Plays atau drama, melakoni cerita. Semua bayi lalu jadi tokoh. Khas, punya penampilan, kepribadian dan perilaku tertentu. Representasi karakter dan kategori-nya, bisa dari bawaan ato lingkungan.

Ada yang meraih simpati, ada yang dilempar sepatu. Di kenyataan, protagonist dan antagonist jadi relative. Lahirlah polemic, bergulir ke konflik sebagai pusat masalah. Kemudian berulang-ulang, dengan lobang berbeda tapi sama.

Day 3

The last day. The day they go out of their life. Resolusi hidupnya. Ada meninggalkan gading, ada meninggalkan belang. Bayi-bayi tadi di kemudian hari hanya meninggalkan nama. Ada yang harum ada yang bau.

Begitulah orang, 3 hari saja. End of story.

Semua lahir nangis, kecuali bayi Isa a.s. yang senyum dan paham kata-kata. Hari lahir, jadi tanda mulai itungan usia. Konon di Arab, umur bayi sudah dihitung sejak ruh ditiupkan, juga di Jepang.

Waktu ‘mbrojol’ umumnya dicatat sebagai start. Yakni, saat pertama Oksigen dan Nitrogen dihirup dari troposfer. Yakni, ketika bayi ngerti bahwa nutrisi ada di ASI. Di rahim bayi tau, semua itu di supply dari placenta saja.

Syari’atnya – selain pada Adam a.s. - perempuan adalah ibu semua orang. Hakikatnya – selain pelangi - semua bayi ciptaan Tuhan.

Kemudian, jadi ‘bocah centil yang tidak dapat duduk tenang’ kata Vina Panduwinata. Lalu tumbuh dan berkembang jadi ‘Lelaki Ilham Dari Sorga’ kata Ebiet G. Ade, dalam lyric-nya yang mendongkrak ego.

Maksud saya; perempuan, bayi, bocah, dan lansia, adalah sumber inspirasi dan cinta. Tak perlu bersinggungan dengan keganasan.

Dalam drama-nya, banyak sebab lantas menghidupkan aneka corak dalam explorasi orang. Ujung-ujungnya pasti berakhir pada satu gerbang: Iman.

Statement-nya: ‘Science without religion is blind, religion without science is lame’, demikian Pak Einstein pernah berujar. ‘Saya cuma bocah yang main-main di pantai, sedang laut dan langit membentang disana’, itu yang bilang Sir Isaac Newton.

-ooOoo-

Dalam diri orang ada 4: Syetan, hawa, nafsu, dan dunia.

Syetan, pintar namun lemah. Orang mati, syetan tidak. Mission-nya : Orang jadi ragu. Contoh bisiknya: “Rejeki dari kantor, bukan dari Alloh”.

Hawa, menggiring manusia pada kelezatan. Contoh: Lihat ‘Wisata Kuliner’ Bondan Winarno, nonton Volley Beach-Ladies, dsb.

Nafsu, bodoh. Maunya membangkang, dan kuat. Contoh: “Serangan jantung dapat menyebabkan gangguan pada hilangnya nikmat merokok”.

Sedangkan dunia, sumber segala kelalaian. Disebutnya : Permainan, senda gurau, kalopun ada kesenangan sifatnya sedikit dan menipu.

Kolaborasi syetan dan nafsu, kata orang Sunda ‘setan bungkeuleukan’.

-ooOoo-

Yahudi tersugesti oleh petikan ayat dalam Genesis: “Kalian terhebat, atas seluruh manusia di dunia.” Hitler jengkel lalu teriak dalam orasi-nya: “Kita bangsa Aria, orang-orang terbaik.”

Maka Hitler genocide Yahudi. Dikeluarkan mereka dari Gheto-Gheto, yang kabur di uber, di sweeping. Lantas di kamar gas kan and so on. Persis cerita di zaman Fir’aun. Yahudi tak disukai bagai hama yang mewabah.

Israel vs. Palestine. ‘Sedari dulu jadi perhatian insani’, membosankan. Yang tau persis urusannya, ya mereka saja. Kemudian, analysts beri pengayaan atas konflik. Orang awam jadi sentimen. Tungtungna, mahasiswa mamawa kardus di tengah jalan, bertuliskan:”cihhuuuyy.…”

Indonesia seperti Palestine, mayoritas muslim yang bagai buih di lautan. Serangan terbuka Israel ke Gaza bagai duren dan bonteng. Menabur simpati pada Palestinian. Sementara Yahudi menuai badai.

Padahal urusan berantem SARA, kita juga sering berkreasi disini. Pun orang-orang, dilain tempat disana. Bukan satu-satunya kegemparan, bukan tragedy lagi. “Merasa” lebih baik, kemaruk, syak wasangka, misconception, selalu jadi biang keroknya.

Dulu di Kamboja ada Khmer Merah. Polpot, Kheu Shampan saparakanca enjoy aja genocide sodara sendiri. Machiavelli paling-paling akan bilang wajar ajah.

Tak hanya Amerika, Israel, Indonesia. Seluruh dunia akan Alloh tundukkan dibawah telapak kaki orang beriman dan mengerjakan amal-amal soleh.

Dunia pasti dan pasti tak mungkin dibawah telapak kaki orang Islam begini rupa. Yang ada, orang Islam ketiban masalah dan dunia.

Dunia, tempat dan waktunya terbatas. Sekali diperebutkan, ya pertikaian. Satu dunia tidak cukup untuk satu ego. Tempat melampiaskan hawa nafsu bukan disini, sorga. Sting waktu masih The Police, berseru dalam reff-nya: ‘One world is enough for all of us’.

Tak usah bawa issue agama, ormas agama, firqah, dan sekte segala. 4 diatas, cukup bikin dunia jadi rame. Jeruk makan jeruk. Predator mati, prey mati. Tanpa dibunuh manusia bakal selesai.

Senyata-nyata musuh hanya dan hanya setan yang terselip di labirin otak dan seluruh badan orang. Bukan Yahudi, Nasrani, bukan apapun. Sekali lagi, Ini kolaborasi dari 4 diatas saja, biasanya setan sebagai actor intellectual.

Para Malaikat a.s. pernah tanya: “Ya Alloooh, untuk aaappaaaa Engkau mencipta manusia yang akan saling tumpahkan darah?” Alloh Robbul Izzat jawab:”Cicing, Aku lebih tau segala perkaraaaa.”

Para Malaikat benar. Sejak awal generasi, orang telah bunuh-bunuhan. Tak ada yang aneh dari tabiat orang dan dunia, dari dulu hingga kapan pun narasi nya begitu-begitu saja.

Kedamaian hanya di Jannah, namanya ‘Darussalam’ tempat keselamatan. Dunia ‘Darul-imtihan’ tempat ujian. Dunia ‘Darul-asbab’ tempat kausalitas. Sebabnya disini, akibatnya disini dan disana.

Tak perlu so’ ujug-ujug sentiment muslim. Semua yang hatinya jalan, ya pasti ngilu. Palestina, Israel, apapun. Hanya nama saja seperti tanah-tanah yang lain. Tak berarti sama sekali.

Tapi, catatan ini ditujukan sebagai rasa sayang ke bayi, anak, wanita dan lansia disana. Hey Mossad, cara itu yang kau sarankan? Macam kau tak tau tertib combat? Jika ya jawabanmu, meski ku yakin ini takdir, maka kau adalah bedebah.

Very well. Palestina, Indonesia dan semua. Boleh meniru presiden Sudan. Mengapa? Karena suka nanya rakyatnya: “Sudah solat? Mari sama-sama”. Tanpa solat, tidak ada pertolongan.

Tidak ada komentar: