Baheula di kampus ada program Widya Wisata, ga tau sekarang mah. Biasanya pergi rada jauh. Giliran saya, pada taun ’88 ke Jawa Tengah. Bayarnya kalo ga salah 15 rebu-an, gitu?
Persiapan menunggu keberangkatan bagai suasana menjelang I’edul Fitri. Resep pisan, suka cita. Yang didaulat jadi panitia pada begadang di kompi Menwa, bari heureuy dan ngawadul seperti biasa.
Pergi lewat jalur Selatan. Bis yang digantungi spanduk di body-nya itu tanpa reclining seat, jadi rada hese sare. Meh rada gaya, di kaca-kacanya ditempeli tulisan “Tour de Java” dari potongan karton bikinan adik saya.
Di perjalanan setelah bosen ngobrol, yang jago gitar mulai jentrang-jentreng. Dari lagu Barat yang lagi In, hingga lagu local. Lagu dangdut mah barudak rada najis.
“Sepanjang Jalan Kenangan” disambut baik dan diikuti oleh senandung all participant terutama mahasiswi. Yang enteng dinyanyikan yaitu “…di radioooo…” dari Gombloh. Mun geus beak kabeh, tungtungna tetep lagu “…mengapa.. di dunia ini…” dari Charles Hutagalung, yang bagian reff-nya ngeden pisan.
Akomodasi diatur sedemikian rupa. Transport PP charter bus “JS” alias Jusuf Sekeluarga. Nginep di hotel sekelas Melati dimana kamar-kamarnya mengelilingi kolam hias yang tengahnya ada patung ikan nyemburin air dari mulutnya. Ajiiib.
Kegiatan disana agenda-nya jelas. Acara telah di program dan di-confirm dari Bandung, pokoknya well organized.
Mun teu salah mah satu diantara pabrik-pabrik yang didatangi adalah Dan Liris, yang sambutannya bagus tea. Mungkin gara-gara nampak dari wajah kuleuheu para mahasiswa, maka penerimaan di pabrik sana jadi rada beda daripada kunjungan pabrik biasa di Bandung yang cuma disuguhan teh botol.
Di Jawa Tengah mah rada special. Setelah ‘inspeksi’ pabrik, rombongan disajeni makan prasmanan. Seorang kawan yang kalap (kalaparan), nyomot ayam goreng 2 potongan badag sekaligus. Lantaran meureun era, untuk menyamarkan maka piring mentungnya ditutupan kurupuk udang.
Disitu pula saya baru tau: “Ooo…. Ieu… mesin Picanol teh….gandeng pisan geuningan euy….pabrik tinun mah matak bonge…...berikut sieun teropong luncat kana sirah!!”
Ada wisata candi, dan pantai. Di Parang Tritis, sembari naek kuda saya difoto Polaroid. Duh….entah dimana dokumentasi itu sekarang. Padahal gambarna alus pisan lantaran harita saya rada jabrig, mun ayeuna mah jigana cocok jang iklan shampoo.
Mampir ke UII Jogja, bla..bla..bla…..Malemnya si-MC ngotot pisan, dengan penuh bujuk rayu nyuruh kita mentas di aula kampus itu. Jadinya persiapan pun dilakukan dalam hitungan detik saja. Kumaha engke wae...lahh..
Dulu jamannya Vocal Group. Perempuan di setel didepan bikin treble dan serak-serak basah, laki dibelakang terbagi menjadi tenor dan bass.
Formasi band ketika itu, Joko Waluyo nakolan drums & percussions, lead guitar n melody Hotma Pardamean Hutasoit, dan Revki Maraktiva pada rhythm, kitu?
Nu jelas, saya bass. Potona ge aya keneh, dipiguraan dan disimpen di rak buku sampe sekarang. Pake kaos item - dikasih Djarum Super - dan celana jeans. Pokona mah gaya, jiga Yuke Semeru - Best Bassist Indonesia ‘86. Jiga teaaa.. jauh ka enya.
Lagunya standar pisan: Kemesraan. Sok aja, mulai reuni SMP, SMA, hingga reuni ITT-STTT Nop ’08 kemaren, popularitas lagu Iwan Fals itu mengalahkan “Somse”-nya Doel Sumbang. Therefore, sebisa-bisa hafalkan saja lyric lagu itu, pasti kepake suatu hari.
Tapi pentas malem itu terbilang sukses euy. Buktinya, orang-orang pada bertepuk tangan.
Sempet mampir juga ke rumah Asngari ’84 di Solo, dimana dia telah bertindak sebagai host yang luar biasa. Seluruh gerombolan yang diangkut oleh 2 bus itu, makan di rumahnya dengan balasan ucapan 'matur nuwun' hungkul, asli.
Dosen yang ikut Ibu Mardiani. Beliau bertindak sebagai juru bicara kami dalam menghadapi pimpinan perusahaan dan beberapa alumni yang kerja disana.
Dosen lain yang ikut, poho. Saha wae, nya? Tapi kesan yang melekat yaitu: Sikap para dosen terhadap mahasiswa ketika diluar kampus mah jadi rada nge-fren euy, bisa suey-suey.
Ok, then...
Respected elders, brothers and friends….
Widya Wisata dan kunjungan pabrik adalah bagian dari kurikulum yang sangat bermanfaat. Mahasiswa jadi tergugah dan membuat sambungan-sambungan mata kuliah yang diterimanya.
Kebalikannya adalah Penataran P-4 Pola 100 jam, berikut pelajaran Pancasila dan Kewiraan yang pernah kami terima. Relevansi dan manfaatnya sampe sekarang masih tetep merupakan misteri.
Demikian pula seminar dan symposium yang pernah digelar oleh para mahasiswa ST-3 dulu. Sangat membuka cakrawala kemudian merangsang kita membuat sambungan-sambungan yang lebih luas dalam wacana dan tindakan.
Bahkan dulu, jalur ke Pak Mentri Perindustrian pun bisa di akses cukup oleh perwakilan mahasiswa saja.
Alangkah bermanfaatnya bila kebiasaan-kebiasaan baik yang sifatnya ilmiah itu bergulir menjadi satu tradisi yang berkesinambungan, periodically. Sekaligus jadi tempat silaturahmi yang berbobot.
Maksud saya adalah mengajak mewujudkan “Ikatan” beneran. Bukan sekedar “Kerumunan”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar